
https://www.pexels.com/photo/a-hand-putting-the-paper-money-inside-the-wallet-8764611/
Sebelum kena PHK, ngatur uang sama sekali ndak menjadi perhatian saya. Mungkin karena saya merasa nyaman di comfort zone saya dengan gaji bulanan dan semua fasilitas yang saya miliki. Anehnya, comfort zone tersebut tidak cukup untuk membuat saya dan istri nyaman di akhir bulan karena harus bayar semua tagihan sana sini dan sedikit sekali yang bisa saya sisihkan untuk menabung dan juga bersedekah. Ironisnya, justru ketika saya kena PHK dan keluarga kami menata lagi semuanya dari 0, dengan penghasilan yang lebih kecil, justru kami bisa lebih tenang dan believe or not … kami bisa menabung dan bersedekah lebih banyak. Mau tahu detailnya … saya spill di tulisan ini ya, jadi tolong dibaca sampai habis ya, semoga bisa bermanfaat.
Teorinya Sih Gampang, Praktiknya … ???
Jadiii mantra untuk mengatur banyak keuangan ada banyak versi tapi lebih kurang dasar-dasarnya sama, yaitu:
- Rencanakan dari awal
- Belanja yang diperlukan saja
- Hindari berhutang
- Jangan lupa untuk berbagi dan menabung/berinvestasi
Sederhana sih, tapi sumpah, susah dilaksanakan.
Nah untuk hal rencana pembagian uang setelah menerima gaji bulanan, saya punya rumus sendiri, saya menyebutnya sebagai PEACE Finance.
P dari Peace adalah Primer/Pokok, berisi semua dana yang kita perlukan untuk kebutuhan pokok kita. Jadi seperti uang belanja sembako, uang nyicil rumah atau sewa rumah, bayar utilitas pokok seperti gas, air, dan mungkin internet (untuk internet ini saya masih mikir masuk primer ndak ya hehehe). Kata para ahli sih, dana primer idealnya berkisar 20% – 50% dari penghasilan kita, lebih kecil lebih bagus.
E pertama dari PEACE adalah untuk Edukasi atau pendidikan, ya agak dipaksaain sih nulisnya pakai bahasa inggris yang dipaksa terabsorsi hahaha biar pas gitu. Ya kawan-kawan, jadi disini kita mengalokasikan dana untuk pendidikan keluarga kita. Minimal paling tidak untuk transport dan biaya SPP anak-anak kita, kalau ada lebih bisa dipakai untuk tambah-tambah ilmu kita sendiri. Dana pendidikan ini idealnya di kisaran 10% – 30% dari penghasilan kita.
A di PEACE adalah untuk Akhirat, dana yang sejatinya akan menolong kita di hari akhir nanti. Wajibnya sih di sekitar 2.5% dari penghasilan kita, tapi katanya kalau bisa lebih besar dari itu lebih baik.
C di PEACE adalah Celengan, again, agak dipaksa sih biar masuk gitu dengan singkatannya. Celengan atau tabungan, adalah pool dana yang kita gunakan untuk investasi guna mencapai tujuan-tujuan finansial kita. Idealnya ini dikisaran 10% – 30% dari penghasilan kita, lebih besar lebih baik
OK, E terakhir adalah untuk Entertainment, atau hiburan. Iya dong, pasti perlu dong setelah bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, perlu dong kita dan keluarga kita mendapatkan reward, nah inilah fungsinya dana entertainment ini. Untuk membuat kita happy dan bisa healing pikiran dan emosi kita. Dana belanja barang mewah atau KW, ngopi-ngopi, plesir dan nonton bioskop, konser dll bisa kita kategori ini. Idealnya di kisaran 10% – 20% dari penghasilan kita.
Nah itu dia teori PEACE Finance yang saya anut dan pahami …. tapi pelaksanaanya ?? nah mari kita bahas hehehe
Sebelum PHK
Jadi kawan-kawan, sebelum PHK, saya bekerja sebagai Senior Manager IT di salah satu perusahaan logistik terkemuka. Take home pay gaji saya terakhir lebih kurang Rp 45 Juta/bulan, sebenarnya lebih sih karena ada THR sebesar 1 bulan gaji dan bonus tahunan yang berkisar antara 1x – 4x gaji.
Waktu itu, memetakan penghasilan saya ke konsep PEACE Finance adalah sebagai berikut:
Untuk kebutuhan pokok, biasanya kami mengeluarkan juta dengan detail sebagai berikut: sembako untuk keluarga dengan 3 orang anak 4 Juta, cicilan rumah 3.5 jt, cicilan mobil 3jt, utilitas (PLN, Gas, Air, Iuran Lingkungan) 2jt, jadi totalnya 15.5jt atau sekitar 33% penghasilan, masih ok ya sesuai teorinya.
Edukasi, kami ndak pernah alokasi khusus, jadi hanya memastikan biaya sekolah anak-anak kami terbayar. Biaya sekolah anak-anak kami (SPP, Transport, dll) adalah 2.5jt atau sekitar 6% dari penghasilan kami. Seharusnya, kami bisa mengalokasikan lebih ke pendidikan ini, yang bisa kami gunakan untuk menambah ilmu saya dan istri, tapi ya itu …. comfort zone, merasa nyaman, sehingga kami terlena lupa untuk belajar ilmu baru.
Akhirat, hampir tidak ada yang kami alokasikan untuk ini, kecuali pas bayar zakat tahunan, idul adha atau ya isi kotak masjid ketika jumatan, itupun kalau ingat. Jadi mungkin bisa dianggap hanya 2.5% saja dari penghasilan kami, jujur saya juga kurang yakin kami sudah membelanjakan 2.5%.
Celengan, apalagi ini, hahahha ndak ada alokasi sama sekali, prinsip kami waktu adalah selalu nyicil apabila ada kebutuhan, jadi ndak pernah sama sekali mikirin beberapa tahun kedepan ada kebutuhan atau keinginan apa dan mulai ngumpulin uang untuk memenuhi kebutuhan itu. Tapi selalu nyicil, ntah itu pakai Kredit Tanpa Agunan, Kasbon Kantor, Kredit, dll. Dengan profile pekerjaan yang saya miliki, sangat mudah bagi kami untuk mendapatkan kredit …. sehingga kami ndak pernah menyisakan uang kami untuk ditabung atau investasi. Kami tahu itu perlu, yaaaa tapi seperti manusia-manusia lainnya pada umumnya, kami tidak melakukannya hehehe.
Entertainment / Hiburan, nah disinilah penghasilan kami banyak dibelanjakan. Ndak pernah direncanakan padahal, tapi ya begitu saya dan istri ingin, langsung deh belanja. Ngopi, barang-barang mewah atau KW, staycation dan lain-lain sangat sering kami lakukan. Boleh dibilang lebih dari 50% penghasilan kami dihabiskan disini.
Setelah PHK
Ada banyak tahapan terjadi dalam kehidupan saya dan keluarga setelah saya di-PHK. Dan setiap tahapan memberikan pembelajaran tersendiri bagi saya dan keluarga tentang bagaimana kami seharusnya mengelola gaya hidup dan keuangan kami.
Masa Frustasi
Ini adalah waktu begitu eksekusi PHK dilakukan, kami masih shock dengan kehidupan yang biasa terjamin penghasilan menjadi tanpa penghasilan sama sekali. Kami berusaha menekan biaya hidup semampu kami, tapi ya tidak bisa terlalu significant. Tetap saja setiap bulannya kami membelanjakan 30 juta lebih untuk membiayai gaya hidup kami.
Selama masa-masa ini, kami hidup dari sedikit tabungan yang kami miliki, hutang ke kartu kredit dan juga saya dan istri nyambi dagang kecil-kecilan. Di periode ini, penghasilan saya benar-benar sangat tidak bisa diharapkan dan sama sekali tidak mencukupi. Hingga akhirnya, kami harus mulai merelakan asset kami, mulai dari barang-barang di rumah hingga ditariknya kendaraan dan rumah kami.
Titik Nadir
Ini adalah saat dimana kami berada di titik terbawah kami, dan juga waktu dimana kami mulai sadar bahwa ada yang pada hidup kami dan harus dirubah agar kehidupan kami menjadi lebih baik.
Begitu surat dari bank kami terima memberitahukan kami bahwa rumah kami harus dikosongkan dalam waktu 7×24 jam, saya dan istri segera duduk bersama merenungi semua kesalahan kami dan merencanakan bagaimana kehidupan kami berikutnya.
Mencari pekerjaan di Jakarta dengan penghasilan yang sama seperti sebelumnya, meskipun mungkin, realitasnya tidak bisa kami harapkan akan terjadi dalam waktu dekat, sementara semua kebutuhan dan tagihan meternya akan jalan terus. Kami harus mulai semuanya dari 0, demikian keputusan kami.
Esoknya kami segera memilah barang-barang kami, dan menjual yang tidak kami perlukan. Gila lho, banyak banget ternyata selama ini hal-hal yang kami beli tapi hanya sedikit sekali kami pakai. Ada banyak kecewa sebenarnya, karena harga jualnya benar-benar jauh dibawah dari harga belinya. Dengan modal hasil menjual barang-barang itu, kami pindah ke Madiun, kontrak rumah kecil dan mendaftarkan anak-anak saya ke sekolah disana.
Disini, kami dipaksa untuk belajar dan segera mengeksekusi pelajaran tersebut, yaitu:
- Meninggalkan riba (termasuk juga harus mengikhlaskan rumah dan kendaraan kami)
- Menyimpan hanya barang-barang yang kami perlukan
- Menurunkan gaya hidup sesuai kemampuan kami
Untuk mencukupi kebutuhan kami di Madiun, saya dan istri masih berdagang online. Saya juga sudah mulai move-on dari mencari pekerjaan yang sejenis dengan pekerjaan saya sebelumnya, masih mencari tapi ndak seintensif sebelumnya. Sebagai gantinya, saya mulai mencurahkan waktu untuk bekerja freelance secara online.
Sampai 3 bulan setelah kami di Madiun, penghasilan kami lebih kurang 6jt/bulan, jauh dari 45jt yang saya pernah terima sebelumnya, tapi …. believe it or not … 6jt ini ternyata cukup dan lebih tenang bagi kami. Bagaimana kami mengalokasikannya …
Untuk kebutuhan pokok (P) kami mengalokasikan Rp 3jt (50%), biaya hidup di Madiun yang jauh lebih rendah membuat kami bisa menekan biaya pokok kami. Setiap hari istri masak dan kami makan makanan rumah. 100rb bisa untuk biaya makan selama seminggu selama kami makan di rumah.
Untuk pendidikan, kami memilih sekolah islam terpadu yang kami rasa baik untuk anak kami, bukan yang premium, tapi kami yakin pengajar mereka memiliki kemampuan untuk mendidik anak-anak kami, dan toh, pendidikan terbesar dari anak-anak kami seharusnya didapatkan dari keluarga mereka. Biaya pendidikan yang kami alokasikan adalah Rp 500rb, dimana 400rb untuk SPP dan transport, dan 100rb untuk saya dan istri belajar hal baru dari internet.
Akhirat, kami alokasikan 10%, 600rb untuk tabungan dunia akhir kami. Sebagian kami masukan ke pool khusus untuk bayar zakat fitrah, maal dan qurban. Dan sisanya kami rutinkan untuk orang-orang disekitar kami yang membutuhkan.
20% dari penghasilan kami, saya tabung dan investasikan. Saya nabung di beberapa insrument yang memberika return yang cukup tinggi untuk memenuhi rencana-rencana keuangan kami.
Sisanya, lebih kurang 10% (600rb) kami alokasikan untuk hiburan keluarga kami. Dua minggu sekali setidaknya kami jalan-jalaln kecil ke alun-alun kota, beli makanan di kedai atau warung kaki lima, ndak mewah tapi indah karena kami lakukan bersama-sama. Atau piknik sederhana di pinggir sungai atau sawah atau lokasi perkemahan dan makan makanan rumah.
Dengan 6jt per bulan, tanpa hutang riba, tanpa gaya hidup yang berlebih, kami mampu memenuhi kebutuhan kami dan keluarga kami juga menjadi lebih dekat.
Belajar dan belajar
Setiap hari kami belajar hal baru, dan pembelajaran itu membantu kami mengatur gaya hidup dan keuangan kami menjadi lebih baik.
Kami belajar bahwa banyak sekali potensi pekerjaan dari dunia online. Tidak menjajikan penghasilan tetap seperti pada umumnya memang, tapi apabila kita serius dan komit dalam menjalankannya Insya Allah perlahan tapi pasti hasil yang didapatkan akan tumbuh.
Kami juga belajar tentang banyak hal baru tentang investasi, dan bagaimana ini berpengaruh besar terhadap cara kami mulai membangun pendapatan pasif.
Kami juga belajar banyak tentang dunia blockchain dan crypto, dan bagaimana memanfaatkan teknologi ini untuk mengatur alokasi keuangan kami menjadi lebih baik.
Mungkin di tulisan-tulisan berikutnya, saya akan coba spil lebih detail tentang hal-hal diatas.
Hari ini, setelah hampir 16 bulan kami mereset kehidupan kami, Alhamdulillah, penghasilan kami tumbuh menjadi sekitar Rp 18 Juta/bulan. 10 Juta kami dapatkan melalui hasil dagang dan kerja freelance, dan 8 Juta dihasilkan dari dana investasi.
Leave a comment