PHK, Anugerah Terindah untuk Keluarga Kami

PHK – Credit: Suara Surabaya

Pandemi Covid 19, pastinya membawa banyak perubahan pada kehidupan kita, termasuk saya. Dan salah satu hal terbesar yang saya dapatkan dari covid-19 yang sangat saya sukuri adalah: PHK, iya PHK, Pemutusan Hubungan Kerja.

Baca sampai habis ya untuk tahu cerita lengkapnya ….


Email mengerikan dari HRD

Sebelum covid-19, saya adalah seorang programmer di sebuah perusahaan di Jakarta, saya hidup bersama istri dan dua orang anak kami. Boleh dibilang ok lah hidup kami, punya motor buat sunmori sama teman-teman, bisa nyicil mobil untuk istri anter jemput anak-anak sekolah, dan ada rumah yang cicilannya masih 8 tahun lagi buat kami berkumpul setiap harinya. Alhamdulillah

Tapi ya, seperti film Avatar The of Aang, semua itu berubah ketika Covid-19 menyerang. Ketika kantor menyebutkan akan ada pengurangan tenaga kerja, jujur hati saya ketar ketir, apalagi karena department saya, department IT, bukan core business perusahaan saya bekerja. Daaaannn akhirnya, hari itupun tiba, email mengerikan itu akhirnya masuk ke inbox saya. Waktu itu, saya takut sekali untuk membaca email tersebut. Selama beberapa hari saya diamkan di inbox saya, meskipun dari subjectnya jelas-jelas terbaca isi email itu: “Perihal Pemutusan Hubungan Kerja”.

Setiap hari perut saya rasanya seperti digoncang ombak laut yang begitu besar, mual, pucat dan demam tidak ada henti. Apa yang akan saya lakukan ? bagaimana memberitahu keluarga kami ? bagaimana saya akan membayar semua kebutuhan kami kedepannya ? dan bagaimana bagaimana yang lain bermunculan di pikiran saya saat itu.

Istri saya nampaknya melihat kekhawatiran saya, akhirnya diapun menanyakan kepada saya, “mas, ada apa ? kok akhir-akhir ini mas keliatan surem banget dan ada happy-happynya sama sekali” demikian lebih kurang pertanyaan istri saya selepas sholat maghrib waktu itu. Demi Allah, ini adalah salah satu saat paling menegangkan dalam hidup saya, selain ketika nembak cinta dan melamarnya. Akhirnya saya beranikan diri menjelaskan kepadanya. Istri saya tentu saja terkejut dan ndak bisa menyembunyikan efek kekalutan dari berita yang saya sampaikan. Tapi diluar dugaan, dia cepat menguasai pikiran dan emosinya dan berusaha menenangkan saya. “Ya sudah ayo kita baca bareng emailnya, apapun yang akan terjadi setelahnya kita hadapi bareng-bareng dan Insya Allah, Allah akan membantu kita”, ucapan ini seperti boost kepada emosi saya. Demikianlah akhirnya kami membaca berita mengerikan tersebut, mengerikan memang, tetapi entah mengapa, dengan istri saya saat itu, terasa lebih ringan.

Nampaknya Allah benar-benar punya jalan tersendiri untuk saya dan keluarga, ratusan lamaran pekerjaan yang saya kirimkan dari surat PHK saya terima hingga 2 bulan setelah PHK dilakukan, tidak banyak yang mendapat respond positif, sepertinya memang seluruh dunia sedang tiarap karena serangan wabah ini.

PHK itu sakit boss !!!

Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, saya dan istri membuat kue dan gorengan yang kami titipkan ke beberapa titik untuk dijajakan. Kami juga mulai dagang beberapa barang kecil-kecilan, yang kami jual baik secara online maupun offline di pasar kaget. Wabah yang berkepanjangan, membuat banyak pasar kaget muncul disana sini. Hasilnya ndak terlalu banyak, tapi paling tidak itu adalah ihtiar kami.

Seperti korban PHK lainnya, kami berusaha sekuat mungkin mengencangkan ikat pinggang, yang penting keluarga kami bisa makan dan anak-anak kami bisa bersekolah. Asset kamipun sedikit demi sedikit mulai terkuras. Semua barang-barang dirumah yang kami rasa tidak terlalu diperlukan perlahan pergi, ntah itu ke pegadaian atau terpaksa kami jual.

Setelah hampir setahun tanpa pekerjaan tetap, akhirnya, kami harus mengikhlashkan hal duniawi yang paling kami berat untuk melepasnya. Mobil kami ditarik dealer karena kami gagal bayar beberapa kali, beberapa bulan setelahnya, rumah kami juga disegel oleh bank karena kami sudah tidak mampu lagi membayar cicilannya. Tentu saja istri saya sedih dan menangis, saya berusaha kuat, tapi air mata saya juga tak luruh mengalir. Kami reset lagi kehidupan kami saat itu, mulai dari 0.

Beberkal menjual hasil sepeda motor saya, dengan beberapa tas kecil, saya dan keluarga akhirnya memutuskan untuk pulang kampung di jawa. Kami kontrak rumah kecil di Madiun. Kenapa kami pilih desa ini, pertama karena saya pernah dulu sewaktu kecil diajak bapak saya main mengunjungi temannya dan kami menginap beberapa hari disini, dan saat itu saya merasa begitu tenang. Madiun memang tidak sehiruk kota kabupate yang lain di Jawa. Biaya hidup juga menjadi salah satu alasan saya memilih kota ini untuk memulai lagi hidup kami. Dengan fasilitas yang dibilang “cukup” untuk pendidikan, konsumsi kebutuhan pokok, kesehatan dan internet, biaya yang ditawarkan kota ini sangat bersaing dengan kota-kota lainnya.

Dari 0 ya kakak !!!

Merasa pesimis dengan peluang kerja yang ada. Sayapun berusaha belajar beberapa ilmu baru melalui internet. Mulai dari internet marketing, bagaimana mencari penghasilan secara remote, investasi dan juga crypto. Semuanya saya coba baca, pelajari dan lakukan.

Saya juga berusaha berkomunikasi dengan teman teman saya baik yang senasib maupun yang lebih beruntung dari kami. Kepada mereka, saya berusaha mendapatkan informasi, ilmu ataupun apapun yang bisa membantu saya dan keluarga. Kadang ada beberapa dari mereka yang memang tulus membantu memberika informasi lowongan kerja atau membagi sedikit project kecil-kecilan untuk menghidupkan dapur kami, tapi tidak sedikit juga yang berusaha mengambil kesempatan. Saya masih ingat ada beberape teman baru yang saya kenal, berusaha membujuk saya untuk ikut binary options atau robot trading yang sekarang ramai jadi bahan pembicaraan karena kasus penipuannya, untungnya saat itu saya merasa aneh dengan konsep bisnis mereka dan saya tidak ikut serta. Seandainya saat itu saya bergabung, mungkin saya akan masuk barisan sakit hati yang dipimpin oleh mas Maru sambil banting-banting laptop saya. Eh mungkin saya ndak akan banting laptop, soalnya ndak ada duit untuk beli lagi hahahaha

Manajemen keuangan itu perlu dilakukan sedari awal, walaupun penghasilan masih kecil

Belajar dari pengalaman kami sebelum PHK, kami sedikit sekali berpikir tentang manajemen keuangan. Mungkin karena kami berfikir bahwa sudah memiliki pekerjaan yang aman dan stabil dengan penghasilan yang mencukupi. Ndak ada yang menyangka bahwa akan ada wabah dan akhirnya pekerjaan itu hilang. Dan ketika itu terjadi, kami sama sekali tidak memiliki dana darurat. Belajar dari situ, kami berusaha sebisa mungkin membagi berapun penghasilan ala kadarnya yang kami dapatkan kepada pos-posnya masing-masing. Belajar crypto membantu kami banget untuk melakukan ini. Crypto menawarkan kemampuan untuk membuat dompet rekening tanpa ribet dan memindahkan uang secara cepat tanpa biaya yang besar diantara dompet-dompet tersebut. Suatu saat Insya Allah akan saya coba buat post tentang ini.

Rp 2 Juta/minggu

Sedikit memiliki pengalaman di bidang IT membantu saya dan istri untuk bisa survive di era pandemi ini. Kami mungkin tidak mendapatkan pekerjaan tetap dari perusahaan, tapi dengan bekal ilmu kami, kami bisa mendapatkan penghasilan sebagai freelancer yang bisa kami kerjakan dari rumah dengan rate yang lumayan besar untuk ukuran kami. Uang dari hasil bekerja freelance tersebut kami putar lagi untuk dagang belanjaan kami dan juga ada yang kami tabung atau investasikan agar bisa berkembang.

Menabung dan investasi ini menjadi hal baru yang saya dan istri pikirkan secara matang dan intensif. Karena usia kami sudah tidak muda lagi, dan kebutuhan hidup anak-anak kami akan cukup besar dalam beberapa tahun kedepan. Kami berusaha untuk mendapatkan penghasilan seperti sebelumnya dari bekerja kepada perusahaan lain, tapi kami tidak bisa berharap dan bertaruh bahwa saya akan mendapatkan itu segera, kami harus berusaha dengan apa yang kami miliki dan dapatkan saat ini dari Allah SWT untuk bisa mencukupi kebutuhan kami, termasuk juga antisipasi kebutuhan-kebutuhan lain kedepannya, dan salah satu yang harus kami lakukan adalah mulai mendisiplinkan menabung dan berinvestasi walaupun dari sekecil mungkin.

Kami memang tidak memiliki pekerjaan yang tetap, tapi setidaknya untuk saat ini, dari hasil tabungan dan investasi tadi, kami bisa mendapatkan Rp 2 juta/minggu, ndak banyak sih memang, tapi itu lebih dari cukup untuk keluarga kecil kami yang tinggal di kota Madiun.

Kami yakin suatu saat nanti, dengan kerja keras dan cerdas, kami akan memiliki asset tabungan atau investasi yang mampu memberikan hasil yang bisa memberika kebebasan finansial untuk saya dan istri.

PHK adalah anugerah terindah kepada keluarga kami

PHK awalnya menjadi sebuah bencana yang menakutkan pada keluarga kami. Tapi seiring berjalannya waktu kami belajar bahwa itu adalah salah satu mekanisme Allah SWT yang membuat kami:

  • Terlepas dari kecintaan terhadap harta duniawi kami (rumah, mobil, perhiasan, dll)
  • Membebaskan kami dari riba dan hutang berkepanjangan
  • Memaksa saya untuk belajar ilmu-ilmu baru
  • Mendapatkan kehidupan yang lebih tenang dan berimbang

Allah memiliki begitu banyak rahasia, tidak ada yang tahu bagaimana Dia akan membantu kehidupan kita menjadi lebih baik. Tugas kita adalah berusaha semampu kita, berdoa dan berbaik sangka kepada-Nya. Dan Dia akan melakukan keajaiban-keajaiban yang tidak pernah kita duga.

PHK adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan Allah SWT kepada keluarga kami disaat Pandemi Covid-19.

Leave a comment